Kamis, 28 Agustus 2014

Tugas Operasional



RINCIAN TUGAS OPERASIONAL PANITIA
A.    Ketua
Samino
Much. Irwan, S.Pd.
Tugas:
1.     Mengadakan rapat
2.     Mendelegasikan tugas kepada anggota panitia yang ditunjuk
3.     Menyampaikan informasi terkait
4.     Monitoring dan supervisi kegiatan
5.     Mempertanggung jawabkan seluruh kegiatan
B.    Sekretaris
Triasih sholihah, ST.
Tugas:
1.     Menyiapkan berbagai format baku untuk pelaksanaan UAS
2.     Menusun jadwal UAS
3.     Menyiapkan naskah/dokumen tes
4.     Pendataan peserta ujian akhir semester dan ujian praktek
5.     Pendistribusian peserta kedalam ruang tes
6.     Pendistribusian pengawas kedalam ruang tes
7.     Mendata kehadiran peserta tes
8.     Mendata klehadiran pengawas
9.     Menindaklanjuti informasi dari ketua
10.  Menyiapkan bahan terkait untuk pelaporan
11.  Bertugas mewakili ketua dalam memberikan kebijakan pada saat yang sangat mendesak/mendadak 
C.    Bendahara
Ka. TU
Tugas:
1.     Menyiapkan format-format biaya program dan SPJ nya
2.     Bersama-sama ketua dan sekretarisnya merencanakan anggaran biaya pelaksanaan
3.     Mengelola kerumahtanggaan/konsumsi pengawas,dll.
4.     Serah terima naskah soal/lembar jawaban UAS
5.     Pelayanan umum
6.     Koordinator persiapan konsumsi
D.    Anggota
Tugas:
1.     Bertanggung jawab pada pembagian KPU oleh wali kelas
2.     Bertanggung jawab pada kjegiatan serah terima soal dan lembar jawaban siswa(LJK)
3.     Mendata kehadiran peserta UAS dan Pengawas
4.     Koordinator pelaksanaan UAS
5.     Koordinator pengolahan dan pengumpulan hasil UAS
6.     Koordinator persiapan, penempelan nomor bangku, denah tempat duduk, dll.
7.     Bertanggung jawab persiapan pembuatan denah
8.     Pelayanan umum
9.     Mendata kehadiran peserta, pengawas, panitia UAS
10.  Membantu tugas umum sekretaris
11.  Sebagai mediator antara penanggung jawab ataupun dengan ketua
12.  Pelayanan umum

Minggu, 02 Juni 2013

Pakan Alternatif Lele


Bahan dan Cara Membuat Pakan Ikan Lele NAhhh berikut untuk sobat yang gemar dengan ternak ikan lele sedikit tips buat anda dimana berikut adalah cara membuat pakan ikan lele sendiri silahkan bisa di coba dengan pakan lele buatan sendiri maka akan sedikit menghemat dan juga mungkin akan meningkatkan kualitas lele berikut ulasannya tentang cara pembuatan pakan lele Oke kita langsung saja ke cara pembuatan pakan Tambahan cair organik untuk ikan lele, adapun bahan yang harus rekan budidaya lele sediakan adalah sebagai berikut :

1. Kotoran hewan sebanyak 10 KG (bisa menggunakan kotoran sapi atau kambing bisa juga kohe kerbau)
Kohe pakan organik lele
Kohe

2. Batang pisang (gedebog) dicacah sebanyak 2kg atau disesuaikan saja banyaknya
Gedebog pisang pakan lele
Gedebog Pisang

3. Jerami padi kering dicacah (banyaknya disesuaikan saja)
Jerami padi
Jerami Padi

4. Dedak halus sebanyak 5kg
Dedak Pakan alternatif
Dedak Halus

5. Tumbuhan air (bisa berupa azolla atau eceng gondok atau kayambang) di cacah  (banyaknya disesuaikan saja
azolla pakan alternatif
Azzolla

6. Gula putih sebanyak 1kg (dicairkan terlebih dahulu)
Gula pakan ikan lele
Gula Putih

7. Probiotik ikan 1/2 liter
Probiotik lele
Probiotic

Adapun cara meramu bahan pakan cair organik untuk lele di atas adalah sebagai berikut :
  1. Bahan pakan cair organik nomor satu (1)sampai dengan nomor 5 dicampurkan semuanya sampai merata
  2. Masukan campuran bahan tadi kedalam wadah (bisa ember atau tong plastik)
  3. Gula yg sudah dicairkan (sudah dingin) campurkan dengan probiotik ikan yang sudah kita sediakan, aduk sampai rata.
  4. Siramkan campuran cairan gula dan probiotic tadi ke bahan campuran yang sudah ada di dalam wadah secara merata dan aduk kembali. 
  5. Tutup rapat wadah tersebut, usahakan untuk memberikan pentilasi udara agar gas yang ada pada bahan yang ada dalam wadah bisa terbuang (bisa menggunakan selang kecil atau dibolongi di bagian atas dengan diameter 1,5 cm atau lihat gambar tutup tong di bawah)
  6. Simpan adonan bahan pakan tambahan cair organik untuk ikan lele tadi selama 1 minggu.

tong pupuk cair pakan lele
Permentasi dalam tong plastik

Setelah semua persiapan di atas selesai dan bahan pakan tambahan cair organik telah kita simpan kini saatnya kita membuat kolam untuk pematangan hasil permentasi bahan di atas, ukuran kolam yang ideal untuk pematangan bahan tadi yaitu 1 x 3m x 50cm atau bisa juga ukuran 2 x 4m bahan kolam bisa menggunakan terpal atau kolam tembok.

pada persiapan kolam untuk bahan pupuk organik cair pakan lele ini kita isi dengan air sampai ketinggian 40 cm dan kita tabur dengan probiotik ikan sebanyak 1/2 liter. setelah permentasi bahan akan cair organik lele dalam tong mencapai 1 minggu maka kita taburkan semuanya kedalam kolam tadi dan kita biarkan lagi selama 3 minggu.

biasanya setelah mencapai 3 minggu maka akan tumbuh hewan kecil dalam kolam seperti jenitik kutu air dan lain sebagainya, bila hewan kecil tersebut sudah tumbuh maka itu menandakan bahwa pakan alternatif pupuk cair ikan lele sudah siap kita berikan. Adapun untuk cara pemberiannya yaitu dengan mengambil airnya sebanyak 5-10liter setiap 3 hari sekali untuk pakan lele budidaya.

Kamis, 22 Maret 2012

Kasongan Kramik Bantul

SEJARAH INDUSTRI KERAJINAN GRABAH KASONGAN
Kasongan adalah nama sebuah desa yang terletak di daerah dataran rendah bertanah gamping di Pedukuhan Kajen, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, sekitar 8 km ke arah barat daya dari pusat Kota Yogyakarta atau sekitar 15-20 menit berkendara dari pusat kota Yogyakarta.
Desa Kasongan merupakan sentra industri kerajinan gerabah. Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat atau tanah lempung. Kawasan ini merupakan wilayah pemukiman para pembuat barang-barang kerajinan berupa perabotan dapur dan juga beraneka macam barang-barang sejenisnya yang sebagian besar menggunakan tanah liat sebagai bahan baku.
Desa Kasongan memang identik dengan keramik dan gerabah, dan merupakan sentra industri kerajinan keramik/gerabah paling besar di Yogyakarta. Sebagian besar penduduknya memang bermata pencaharian sebagai pengrajin keramik dan telah menghasilkan berbagai macam produk mulai dari dari guci, jambangan, vas bunga, patung hewan, tempat lilin, dll. Pangsa pasar produk keramik Kasongan hampir delapan puluh persen luar negeri, antara lain ke Malaysia, Singapura, Korea, Jepang, Amerika Serikat, Belanda, dll. Dalam perkembangannya Desa Kasongan, yang dulu menjadi tempat produksi, kini berkembang menjadi tempat pemasaran setelah berdiri kios-kios show-room.
Jika bertandang ke yogyakarta, sempatkanlah diri untuk datang ke wilayah ini karena letaknya tidak jauh dari pusat kota yakni sekitar 8 km ke arah barat daya. Dan untuk mengenal lebih dekat dengan sentra industri ini, berjalan kaki adalah pilihan terbaik, karena kita bisa keluar masuk ke bagian-bagian proses pembuatan keramik, mulai dari pengolahan tanah, pembentukan hingga proses pembakaran dan pewarnaan. Di sini kita akan melihat puluhan bahkan ratusan keramik yang siap dipasarkan.
Konon pada masa krisis moneter beberapa waktu yang lalu, pengrajin didaerah ini meraup untung yang besar dari lonjakan mata uang dollar AS. Harga keramik/gerabah menjadi murah dimata pembeli luar negeri dan mampu menaikkan ekspor hingga 50-100%. Hal ini tentu saja memberikan keuntungan yang signifikan bagi pengusaha maupun pemasar industri keramik/gerabah ini. Permintaan pun juga semakin bervariasi dari semula yang hanya berupa souvenir dan aksesori rumah tangga meningkat pada permintaan untuk jenis mebel, seperti meja dan kursi.
Dahulu, pembuatan gerabah di desa ini terbatas untuk peralatan keperluan rumah tangga, seperti kendi (wadah air minum), kendil (wadah untuk memasak), gentong (wadah air), anglo (kompor – tempat pembakaran dengan bahan bakar arang untuk memasak), dan sejenisnya.
Sejalan dengan perkembangan jaman, sekarang ini pembuatan gerabah tidak hanya terbatas pada perabotan rumah tangga saja, namun juga barang-barang lain sejenis yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran.

Asal usul daerah Kasongan menjadi Sentra Industri grabah
Pada masa penjajahan Belanda, salah satu daerah di sebelah selatan kota Yogyakarta pernah terjadi peristiwa yang mengejutkan warga setempat, yaitu seekor kuda milik Reserse Belanda ditemukan mati di atas lahan sawah milik seorang warga. Hal tersebut membuat warga ketakutan setengah mati. Karena takut akan hukuman, warga akhirnya melepaskan hak tanahnya dan tidak mengakui tanahnya lagi. Hal ini diikuti oleh warga lainnya. Tanah yang telah dilepas inipun kemudian diakui oleh penduduk desa lain. Warga yang takut akhirnya berdiam diri di sekitar rumah mereka. Karena tidak memiliki lahan persawahan lagi, maka untuk mengisi hari, mereka memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar. Mereka memanfaatkan tanah yang ada, kemudian mengempal-ngempalnya yang ternyata tidak pecah bila disatukan, lalu mulai membentuknya menjadi berbagai fungsi yang cenderung untuk jadi barang keperluan dapur atau mainan anak-anak. Berawal dari keseharian nenek moyang mereka itulah yang akhirnya kebiasaan itu diturunkan hingga generasi sekarang yang memilih menjadi perajin keramik untuk perabot dapur dan mainan hingga kini.